Reposisi Gerakan Santri Milenial.

Baqi maulana rizqi sedang membaca buku Dr. Kuntowijoyo, dengan judul Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi
Baqi maulana rizqi | Opini | 12 Juli 2019 | 66

Jurnaljateng.com - Pada setiap fase, akan berbeda dalam menciptakan dan menghadapi dinamika sosialnya. Untuk mengetahui perbedaan itu, perlu kiranya kita lihat kembali sejarah. Dimana terjadi perkembangan penting dalam dinamika bangsa Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Kuntowijoyo, dalam bukunya yang berjudul “Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi” di bagian pertama, dalam pembahasan Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950, Sebuah Pencarian Identitas, penelitiannya D.H Burger tentang Perubahan Sosial dan Ekonomi di Indonesia beliau menjelaskan bahwa pada awal abad XX kita menyaksikan suatu perkembangan penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia, ketika daerah perkotaan menggeser peranan komunitas pedesaan sebagai tempat berlangsungnya perubahan. Jika tuntutan akan lahan dan tenaga kerja dari kaum penjajah telah mengubah tatanan masyarakat di abad XIX, maka pertumbuhan usaha perbidang kehidupan sosial di pusat-pusat kegiatan tersebut.
Selain dari pada adanya kategori-kategori yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana keadaan sosial ekonomi umat, kita mengenal istilah borjuis pribumi. Kelas untuk mengkategorikan kaum pengusaha dan cendekiawan yang menguasai kehidupan kota. Kaum bangsawan, pangreh praja yang juga disebut golongan priyayi. Dalam dinamikanya, perdagangan dan industri sangat mempengaruhi mobilitas sosial. Pasalnya, pada abad XX kegiatan usaha golongan menengah pribumi ini selalu terancam oleh barang impor dan persaingan modal. Dilihat dari perbedaan sistem yang dipakai, industri seperti tekstil milik pribumi masih bersifat industri rumah tangga dengan sebutan mbakul, sedangkan sistem manufaktur dan pabrik dimainkan dari pihak asing. Inilah salah satu kondisi ekonomi yang tidak begitu baik untuk pribumi dan menjadi suatu alasan tersendiri mengapa gerakan perlawanan timbul. Dalam kerangka ekonomi dualistik kegiatan perdagangan dan industri pribumi itu timbul, hingga membawa masalah tersendiri contohnya kemarahan pribumi atas tekanan modal asing yang terus membengkak dan menutup peluang bagi yang memiliki modal kecil.
Bagaimanapun, lingkaran sistem kapitalisme untuk para kaum pemodal besar semakin kuat keberadannya. Karena dalam sejarah sampai pada hari ini, kekuatan pemilik modal semakin membesar. Ekploitasinya menjadi kemungkinan terbesar bagi para pemilik modal, hari ini segala hal tidak jarang akan dilihat dari sudut ekonomis saja. Artinya sudah menjadi paradigma yang kuat dalam menganalisis lingungan sekitar, yang menjadi catatan penting kerangka yang dibangundan semakin subur hari ini berangkat dari mengkuantitatifkan segala hal. Lihat saja, dibeberapa daerah marak pembangunan secara fisik guna menunjang keterjangkauan industri moderen. Tidak jarang, pemanfaatan alam sudah tidak terbendung oleh hasrat ekonomisnya. Artinya mengambil upaya laba dari gerak sosial, dengan terus berkembangnya kapitalisme juga sebading lurus dengan perubahan-perubahan budaya. Karakteristik kita semakin kompleks, karena dorongan kapitalisme yang sedikit banyaknya membentuk alam pikiran yang membumikan paradigma ekonomis. Efek logisnya gerak langkah hari ini, semakin individualis, karena berkelompok atau kolektif bukanlah hal yang menuntungkan banyak pihak, hedonis karena sempitnya memandang kehidupan  yang dijalani, serta realistis, dalam menampung dianmika sosial.
Eksistensi yang tampak memang menyenangkan bagi mata yang silau dengan keemasan, hasrat bagi kuasa ologarki, serta bersosial tanpa estetika dan etika. Semua ini indah-indah saja, tidak begitu ada kecemasan berlebih. Tidak begitu pandai ternyata berbading lurus dengan kebahagian yang disepakati secara materi. Kapitalisme memkasa untuk cost/biaya hidup yang selangit, yang tidak bisa mengimbangi siap-saip saja terlempar kejuarang yang paling hina. Ketergantungan yang semkain kuat, membelenggu realistis yang akan terus merobohkan prinsi mandiri tanpa bank Mandiri. Sebelumnya tidak pernah terlintas akan kegelisan yang memuncak, akan tetapi dalam berkehidupan mendorong akan perilaku yang sarat nilai-nilai, karena jelas status akan berujung pada sebuah ikatan atau membuat dependen/tergantung.
Menerima ekonomi Islam sebagai solusi-konkret dalam menjawab persoalan terkait perekonomian Indonesia terlebih perekembangan yang mengikuti perubahan yang ada, adalah hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab ekonomi Islam, yang berisi tuntunan dan pedoman ideal, adalah harapan yang mampu mengakomodir kebutuhan hidup semua kelas dan golongan. Sistem ekonomi Islam jika masih menempati kedudukan sebagai sistem ekonomi yang bercita-cita menanamkan pengaruh idealnya di masyarakat, pengelolaan sumber daya adalah salah satu upaya kaderisasi untuk meningkatkan pemberdayaan dan penanganan lebih lanjut. Melihat dinamika sejarah, santri yang terilhami oleh nilai-nilai Islam menjadi kelompok yang paling dinamis.
Di abad XIX, Kyai terus mengupayakan kaderisasi Islam dengan melakukan pembenahan lembaga pendidikan pesantren. Harry J. Benda dalam bukunya ysng berjudul Bulan Sabit dan Matahari terbit, Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang menjelaskan bahwa kebangkitan kaum santri kota berjuang melawan empat seteru: Formalisme kolot, kebudayaan adat priyayi, sikap kebarat-baratan, dan stastus quo penjajahan. Di awal abad XX, ditengah-tengah kemrosotan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi, kaum santri berhasil menghimpun kembali kekuatan dalam masyarakat untuk melancarkan gerakan baru. 
Pondok pesantren telah memberi warna baru kaitanya dengan ekonomi, pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Pesantren selain tampil sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan penyiar agama Islam, dalam perjalananya ikut berpartisipasi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan teknologi serta tuntutan globalisasi. Keberadaan pesantren di Indonesia yang jumlahnya mencapai 29 ribu lebih sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang ekonomi. Santri menjadi kunci utama suksesnya upaya pesantren mencapai visi dan misi serta tujuan pendidikan yang diselenggarakan, keberhasilan pesantren dalam menciptakan sosok santri seperti yang sudah dikatan oleh Harry J. Benda, salah satunya dapat dirumuskan dalam konsep pemberdayaan.

Pada setiap fase, akan berbeda dalam menciptakan dan menghadapi dinamika sosialnya. Untuk mengetahui perbedaan itu, perlu kiranya kita lihat kembali sejarah. Dimana terjadi perkembangan penting dalam dinamika bangsa Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Kuntowijoyo, dalam bukunya yang berjudul “Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi” di bagian pertama, dalam pembahasan Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950, Sebuah Pencarian Identitas, penelitiannya D.H Burger tentang Perubahan Sosial dan Ekonomi di Indonesia beliau menjelaskan bahwa pada awal abad XX kita menyaksikan suatu perkembangan penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia, ketika daerah perkotaan menggeser peranan komunitas pedesaan sebagai tempat berlangsungnya perubahan. Jika tuntutan akan lahan dan tenaga kerja dari kaum penjajah telah mengubah tatanan masyarakat di abad XIX, maka pertumbuhan usaha perbidang kehidupan sosial di pusat-pusat kegiatan tersebut.
Selain dari pada adanya kategori-kategori yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana keadaan sosial ekonomi umat, kita mengenal istilah borjuis pribumi. Kelas untuk mengkategorikan kaum pengusaha dan cendekiawan yang menguasai kehidupan kota. Kaum bangsawan, pangreh praja yang juga disebut golongan priyayi. Dalam dinamikanya, perdagangan dan industri sangat mempengaruhi mobilitas sosial. Pasalnya, pada abad XX kegiatan usaha golongan menengah pribumi ini selalu terancam oleh barang impor dan persaingan modal. Dilihat dari perbedaan sistem yang dipakai, industri seperti tekstil milik pribumi masih bersifat industri rumah tangga dengan sebutan mbakul, sedangkan sistem manufaktur dan pabrik dimainkan dari pihak asing. Inilah salah satu kondisi ekonomi yang tidak begitu baik untuk pribumi dan menjadi suatu alasan tersendiri mengapa gerakan perlawanan timbul. Dalam kerangka ekonomi dualistik kegiatan perdagangan dan industri pribumi itu timbul, hingga membawa masalah tersendiri contohnya kemarahan pribumi atas tekanan modal asing yang terus membengkak dan menutup peluang bagi yang memiliki modal kecil.
Bagaimanapun, lingkaran sistem kapitalisme untuk para kaum pemodal besar semakin kuat keberadannya. Karena dalam sejarah sampai pada hari ini, kekuatan pemilik modal semakin membesar. Ekploitasinya menjadi kemungkinan terbesar bagi para pemilik modal, hari ini segala hal tidak jarang akan dilihat dari sudut ekonomis saja. Artinya sudah menjadi paradigma yang kuat dalam menganalisis lingungan sekitar, yang menjadi catatan penting kerangka yang dibangundan semakin subur hari ini berangkat dari mengkuantitatifkan segala hal. Lihat saja, dibeberapa daerah marak pembangunan secara fisik guna menunjang keterjangkauan industri moderen. Tidak jarang, pemanfaatan alam sudah tidak terbendung oleh hasrat ekonomisnya. Artinya mengambil upaya laba dari gerak sosial, dengan terus berkembangnya kapitalisme juga sebading lurus dengan perubahan-perubahan budaya. Karakteristik kita semakin kompleks, karena dorongan kapitalisme yang sedikit banyaknya membentuk alam pikiran yang membumikan paradigma ekonomis. Efek logisnya gerak langkah hari ini, semakin individualis, karena berkelompok atau kolektif bukanlah hal yang menuntungkan banyak pihak, hedonis karena sempitnya memandang kehidupan  yang dijalani, serta realistis, dalam menampung dianmika sosial.
Eksistensi yang tampak memang menyenangkan bagi mata yang silau dengan keemasan, hasrat bagi kuasa ologarki, serta bersosial tanpa estetika dan etika. Semua ini indah-indah saja, tidak begitu ada kecemasan berlebih. Tidak begitu pandai ternyata berbading lurus dengan kebahagian yang disepakati secara materi. Kapitalisme memkasa untuk cost/biaya hidup yang selangit, yang tidak bisa mengimbangi siap-saip saja terlempar kejuarang yang paling hina. Ketergantungan yang semkain kuat, membelenggu realistis yang akan terus merobohkan prinsi mandiri tanpa bank Mandiri. Sebelumnya tidak pernah terlintas akan kegelisan yang memuncak, akan tetapi dalam berkehidupan mendorong akan perilaku yang sarat nilai-nilai, karena jelas status akan berujung pada sebuah ikatan atau membuat dependen/tergantung.
Menerima ekonomi Islam sebagai solusi-konkret dalam menjawab persoalan terkait perekonomian Indonesia terlebih perekembangan yang mengikuti perubahan yang ada, adalah hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab ekonomi Islam, yang berisi tuntunan dan pedoman ideal, adalah harapan yang mampu mengakomodir kebutuhan hidup semua kelas dan golongan. Sistem ekonomi Islam jika masih menempati kedudukan sebagai sistem ekonomi yang bercita-cita menanamkan pengaruh idealnya di masyarakat, pengelolaan sumber daya adalah salah satu upaya kaderisasi untuk meningkatkan pemberdayaan dan penanganan lebih lanjut. Melihat dinamika sejarah, santri yang terilhami oleh nilai-nilai Islam menjadi kelompok yang paling dinamis.
Di abad XIX, Kyai terus mengupayakan kaderisasi Islam dengan melakukan pembenahan lembaga pendidikan pesantren. Harry J. Benda dalam bukunya ysng berjudul Bulan Sabit dan Matahari terbit, Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang menjelaskan bahwa kebangkitan kaum santri kota berjuang melawan empat seteru: Formalisme kolot, kebudayaan adat priyayi, sikap kebarat-baratan, dan stastus quo penjajahan. Di awal abad XX, ditengah-tengah kemrosotan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi, kaum santri berhasil menghimpun kembali kekuatan dalam masyarakat untuk melancarkan gerakan baru. 
Pondok pesantren telah memberi warna baru kaitanya dengan ekonomi, pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Pesantren selain tampil sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan penyiar agama Islam, dalam perjalananya ikut berpartisipasi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan teknologi serta tuntutan globalisasi. Keberadaan pesantren di Indonesia yang jumlahnya mencapai 29 ribu lebih sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang ekonomi. Santri menjadi kunci utama suksesnya upaya pesantren mencapai visi dan misi serta tujuan pendidikan yang diselenggarakan, keberhasilan pesantren dalam menciptakan sosok santri seperti yang sudah dikatan oleh Harry J. Benda, salah satunya dapat dirumuskan dalam konsep pemberdayaan.

Pada setiap fase, akan berbeda dalam menciptakan dan menghadapi dinamika sosialnya. Untuk mengetahui perbedaan itu, perlu kiranya kita lihat kembali sejarah. Dimana terjadi perkembangan penting dalam dinamika bangsa Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Kuntowijoyo, dalam bukunya yang berjudul “Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi” di bagian pertama, dalam pembahasan Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950, Sebuah Pencarian Identitas, penelitiannya D.H Burger tentang Perubahan Sosial dan Ekonomi di Indonesia beliau menjelaskan bahwa pada awal abad XX kita menyaksikan suatu perkembangan penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia, ketika daerah perkotaan menggeser peranan komunitas pedesaan sebagai tempat berlangsungnya perubahan. Jika tuntutan akan lahan dan tenaga kerja dari kaum penjajah telah mengubah tatanan masyarakat di abad XIX, maka pertumbuhan usaha perbidang kehidupan sosial di pusat-pusat kegiatan tersebut.
Selain dari pada adanya kategori-kategori yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana keadaan sosial ekonomi umat, kita mengenal istilah borjuis pribumi. Kelas untuk mengkategorikan kaum pengusaha dan cendekiawan yang menguasai kehidupan kota. Kaum bangsawan, pangreh praja yang juga disebut golongan priyayi. Dalam dinamikanya, perdagangan dan industri sangat mempengaruhi mobilitas sosial. Pasalnya, pada abad XX kegiatan usaha golongan menengah pribumi ini selalu terancam oleh barang impor dan persaingan modal. Dilihat dari perbedaan sistem yang dipakai, industri seperti tekstil milik pribumi masih bersifat industri rumah tangga dengan sebutan mbakul, sedangkan sistem manufaktur dan pabrik dimainkan dari pihak asing. Inilah salah satu kondisi ekonomi yang tidak begitu baik untuk pribumi dan menjadi suatu alasan tersendiri mengapa gerakan perlawanan timbul. Dalam kerangka ekonomi dualistik kegiatan perdagangan dan industri pribumi itu timbul, hingga membawa masalah tersendiri contohnya kemarahan pribumi atas tekanan modal asing yang terus membengkak dan menutup peluang bagi yang memiliki modal kecil.
Bagaimanapun, lingkaran sistem kapitalisme untuk para kaum pemodal besar semakin kuat keberadannya. Karena dalam sejarah sampai pada hari ini, kekuatan pemilik modal semakin membesar. Ekploitasinya menjadi kemungkinan terbesar bagi para pemilik modal, hari ini segala hal tidak jarang akan dilihat dari sudut ekonomis saja. Artinya sudah menjadi paradigma yang kuat dalam menganalisis lingungan sekitar, yang menjadi catatan penting kerangka yang dibangundan semakin subur hari ini berangkat dari mengkuantitatifkan segala hal. Lihat saja, dibeberapa daerah marak pembangunan secara fisik guna menunjang keterjangkauan industri moderen. Tidak jarang, pemanfaatan alam sudah tidak terbendung oleh hasrat ekonomisnya. Artinya mengambil upaya laba dari gerak sosial, dengan terus berkembangnya kapitalisme juga sebading lurus dengan perubahan-perubahan budaya. Karakteristik kita semakin kompleks, karena dorongan kapitalisme yang sedikit banyaknya membentuk alam pikiran yang membumikan paradigma ekonomis. Efek logisnya gerak langkah hari ini, semakin individualis, karena berkelompok atau kolektif bukanlah hal yang menuntungkan banyak pihak, hedonis karena sempitnya memandang kehidupan  yang dijalani, serta realistis, dalam menampung dianmika sosial.
Eksistensi yang tampak memang menyenangkan bagi mata yang silau dengan keemasan, hasrat bagi kuasa ologarki, serta bersosial tanpa estetika dan etika. Semua ini indah-indah saja, tidak begitu ada kecemasan berlebih. Tidak begitu pandai ternyata berbading lurus dengan kebahagian yang disepakati secara materi. Kapitalisme memkasa untuk cost/biaya hidup yang selangit, yang tidak bisa mengimbangi siap-saip saja terlempar kejuarang yang paling hina. Ketergantungan yang semkain kuat, membelenggu realistis yang akan terus merobohkan prinsi mandiri tanpa bank Mandiri. Sebelumnya tidak pernah terlintas akan kegelisan yang memuncak, akan tetapi dalam berkehidupan mendorong akan perilaku yang sarat nilai-nilai, karena jelas status akan berujung pada sebuah ikatan atau membuat dependen/tergantung.
Menerima ekonomi Islam sebagai solusi-konkret dalam menjawab persoalan terkait perekonomian Indonesia terlebih perekembangan yang mengikuti perubahan yang ada, adalah hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab ekonomi Islam, yang berisi tuntunan dan pedoman ideal, adalah harapan yang mampu mengakomodir kebutuhan hidup semua kelas dan golongan. Sistem ekonomi Islam jika masih menempati kedudukan sebagai sistem ekonomi yang bercita-cita menanamkan pengaruh idealnya di masyarakat, pengelolaan sumber daya adalah salah satu upaya kaderisasi untuk meningkatkan pemberdayaan dan penanganan lebih lanjut. Melihat dinamika sejarah, santri yang terilhami oleh nilai-nilai Islam menjadi kelompok yang paling dinamis.
Di abad XIX, Kyai terus mengupayakan kaderisasi Islam dengan melakukan pembenahan lembaga pendidikan pesantren. Harry J. Benda dalam bukunya ysng berjudul Bulan Sabit dan Matahari terbit, Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang menjelaskan bahwa kebangkitan kaum santri kota berjuang melawan empat seteru: Formalisme kolot, kebudayaan adat priyayi, sikap kebarat-baratan, dan stastus quo penjajahan. Di awal abad XX, ditengah-tengah kemrosotan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi, kaum santri berhasil menghimpun kembali kekuatan dalam masyarakat untuk melancarkan gerakan baru. 
Pondok pesantren telah memberi warna baru kaitanya dengan ekonomi, pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Pesantren selain tampil sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan penyiar agama Islam, dalam perjalananya ikut berpartisipasi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan teknologi serta tuntutan globalisasi. Keberadaan pesantren di Indonesia yang jumlahnya mencapai 29 ribu lebih sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang ekonomi. Santri menjadi kunci utama suksesnya upaya pesantren mencapai visi dan misi serta tujuan pendidikan yang diselenggarakan, keberhasilan pesantren dalam menciptakan sosok santri seperti yang sudah dikatan oleh Harry J. Benda, salah satunya dapat dirumuskan dalam konsep pemberdayaan.