Mahasiswa dan Vision of Peace Suarakan Perdamaian Lewat Karya

Ari Syaputra | Nasional | 11 Juli 2019 | 112
Foto: Founder Vision Of Peace Damien Dematra Saat Memberikan Penghargaan Kepada Pemenang Lomba Karya Lukis Di Jakarta, Rabu (10/7).

Jurnaljateng.com, - Ajang penghargaan perdamaian lewat karya yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Timur dan Visions of Peace yang berafiliasi dengan International Film Festival Group. Kegiatan bertema Anugerah Perdamaian Masa Depan di adakan di Aula SDIT darul Maarif Ciracas.

Visions of Peace Awards mempromosikan perdamaian lewat karya yang dikumpulkan dari karya anak dari Seluruh Indonesia.

"Mengkampanyekan perdamaian melalui seni adalah gagasan yang sudah kami lakukan sejak 8 tahun lalu, dan di Indonesia sudah 25 kali acara ini dilakukan dengan sasaran lebih kepada anak-anak," kata Pendiri Visions of Peace Awards Damien Dematra kepada Keuangan.co di Jakarta, Rabu (10/7) pagi.

Menurut Demian, mengkampanyekan perdamaian dunia bisa dilakukan dengan cara-cara yang lembut seperti seni. Para peserta kompetisi yang merupakan anak-anak diajak menjabarkan makna dari perdamaian itu sendiri dari sudut pandangnya masing-masing melalui karya.

Anak mengenal perdamaian dan mengimplementasikan dalam kehidupannya dengan cara yang lebih baik dibanding orang-orang dewasa.

"Perdamaian itu indah, karenanya harus dikenalkan sejak usia dini dengan cara yang lembut dan kami memilih seni sebagai medianya," sambung Damien.

Dalam waktu yang sama, Miya Wang wanita  yang termasuk anggota International Film Festival Group di Selandia Baru menyampaikan akan membuat film yang akan menceritakan tentang perdamaian dunia.

“Saya bersama tim sudah melakukan perjalanan lebih dari sepuluh negara untuk mempelajari budaya “negara” untuk kami jadikan materi film, dan salah satunya Indonesia.” Ujar Wang.

Hal lain juga di sampaikan oleh Ketua Panitia acara Muhammad Nashih dalam Event yang di inisiasi oleh Vision of Peace Award bekerjasama dengan PMII.

"Ini sangat menginspirasi dan menjadi edukasi untuk anak-anak khususnya agar tidak fanatik terhadap satu golongan, karena Indonesia memiliki multi etnis" kata Nashih.

Dalam masa kini, kata dia, “fanatisme terhadap golongan adalah salah satu bentuk yang membuat perpecahan didunia ini terjadi, hanya karena berbeda keyakinan.” pungkasnya.

Masukkan kata kunci...

Social Links