Hadiri HLUN 2019, Gubernur Jabar Sampaikan Program Lansia Pemdaprov Jawa Barat

Alief Nugraha | Nasional | 11 Juli 2019 | 79
Foto: Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita Bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Dalam Acara Puncak Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tingkat Nasional 2019 Di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (10/7/2019).

Jurnaljateng.com, - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat akan memaksimalkan kebahagiaan para lanjut usia (lansia) di Jawa Barat. Dia pun memaparkan beberapa program strategis untuk mewujudkan hal tersebut dalam acara puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tingkat Nasional 2019 di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (10/7/2019).

“Kami ingin memaksimalkan indeks kebahagian para lansia di Jawa Barat,” ujar Emil – sapaan akrab Ridwan Kamil-- dalam sambutannya.

“Semua kebijakan Gubernur terkait lansia sebenarnya refleksi pengabdian saya kepada ibu kandung saya yang masih hidup dan selalu medoakan saya,” lanjutnya.

Menurut Emil, ketika usia sudah memasuki senja, ada dua hal yang menjadi tantangan, fisik yang sudah melemah dan secara mental perlu ada perhatian khusus dari yang lebih muda.

Untuk itu, Pemdaprov Jawa Barat memiliki beberapa program untuk meningkatkan kebahagiaan dan kualitas hidup para lansia. Seperti program Minggu Lansia yang terinspirasi dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Program tersebut akan mengajak relawan muda untuk mengunjungi para lansia, minimal satu kali setiap minggu. Tujuannya, untuk membawa keceriaan bagi para lansia melalui interaksi dan komunikasi.

“Kita buat gerakan Minggu Lansia dimana relawan-relawan anak muda itu kita atur bersilaturahim kepada para lansia khususnya yang kesepian, membawa makanan, mengajak piknik, ke Car Free Day atau sekadar menemani bicara,” katanya.

Selain itu, kata Emil, program untuk meningkatkan produktivitas para lansia, yakni lansia kembali ke sekolah. Namun, bukan untuk belajar, melainkan untuk menjadi guru tamu. “Ada mantan Gubernur, mantan seniman yang masih hebat, mantan bupati, mantan orang-orang pintar yang sayang kalau sepatah dua patah ilmunya tidak tertransfer kepada generasi anak-anak,” ucapnya.

Emil juga menyebut pihaknya tengah mengadakan kajian ilmiah yang hasilnya akan dijadikan kebijakan. Hasil kajian tersebut diharapkan bisa menjadi masukan kebijakan Gubernur Jawa Barat untuk memaksimalkan kehidupan para lansia.

“Termasuk sedang kita hitung tentang memudahkan, menggratiskan, memberikan subsidi untuk biaya kesehatan, untuk biaya piknik, untuk hal-hal lain terserah maunya lansia. Saya hanya bilang yes,” katanya.

Selain itu, Emil mengatakan bahwa pihaknya akan meluncurkan program Pesantren Kilat untuk lansia. Tak hanya program spiritualitas, di pesantren kilat ini, para lansia akan diberikan wawasan tentang pertanian atau berkebun. Rencananya, lokasi pesantren tersebut ada di Kabupaten Bandung Barat.

“Dua minggu dalam sebulan kita belajar agama di pesantren yang disiapkan. Pada saat tidak ngaji, bisa berkebun, bertani, atau bercocok tanam. Jadi, dua-duanya dapat, kegiatan fisik mendekati alam dan kegiatan spiritualitas belajar agama,” ucapnya.

Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa lansia bukan halangan untuk tetap berkontribusi kepada negara dan masyarakat. Sebagai generasi muda, lanjut Agus, kita perlu mendukung semangat positif para lansia, seperti yang terlihat dalam acara HLUN 2019 yang dihadiri sekitar 6.000 lansia.

Pemerintah juga akan mendorong agar aturan batas usia lansia 60 tahun diubah menjadi 65 tahun. Karena menurut Agus, usia 60 adalah usia yang masih produktif dan aktif. Sesuai dengan tema HLUN 2019 “Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat.”

“Tentu saya akan mempertimbangkan untuk mendorong adanya revisi aturan itu agar lansia kita tetapkan pada umur 65 tahun,” katanya.

“Menjadi tantangan kita saat ini agar para lansia bisa menjadi aset Sumber Daya Manusia yang tetap sehat, mandiri, produktif, sejahtera dan bermartabat, sehingga para lansia masih bisa berkontribusi secara positif terhadap pembangunan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa Indonesia telah memasuki era dengan penduduk berstruktur tua. Era tersebut dimulai pada tahun 2000 dengan proporsi lansia mencapai 7,18%, sedangkan suatu negara yang dikategorikan negara bertsruktur tua apabila proporsi lansia mencapai 7% ke atas.

Pertumbuhan jumlah lansia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2005 terdapat 8,5% penduduk lansia, pada 2010 ada 9,77% penduduk lansia, dan diakhir 2018 jumlah penduduk lansia mencapai 24,4 juta jiwa atau 9,27% dari total populasi Indonesia. Pada 2020 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan mencapai 11,3%.

“Tentu hal ini sudah seharusnya pemerintah baik pusat maupun daerah bekerja sama dengan lembaga non-pemerintah untuk memberikan perhatian dan dukungan kepada lansia,” katanya.

Agus pun memaparkan beberapa hal terkait langkah konkret yang perlu dilakukan untuk menjadikan lansia sebagai aset SDM yang produktif. Pertama, langkah preventif merupakan upaya mencegah dan menanggulangi risiko kemiskinan di kalangan lansia. Kedua, protektif adalah upaya untuk memberikan pelayanan dasar dan bantuan sosial bagi lansia yang perlu layanan.

Ketiga, promotif adalah upaya untuk meningkatkan kapasitas keterampilan dan tingkat pendapatan di kalangan lansia. Keempat, transformatif yaitu upaya untuk menyiapkan perangkat hukum dan kebijakan untuk menghilangkan kerentanan dan ketidaksetaraan terhadap kaum lansia.

Masukkan kata kunci...

Social Links